banner 970x250

Ekonomi Konawe Melejit, Bupati Yusran: Kita Harus Perkuat Hulu

waktu baca 2 menit
Jumat, 8 Agu 2025 00:40 0 118 Admin

IKONSULTRA.COM : KONAWE – Meski mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Sultra pada tahun 2024, Kabupaten Konawe masih menghadapi sejumlah tantangan krusial.

Dalam rapat strategis bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe, Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, ST, menekankan pentingnya penggunaan data dalam merancang kebijakan daerah yang lebih inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, Kamis (07/8/2025).

Di sektor pertanian, Konawe menunjukkan kebangkitan signifikan. Produksi padi mencapai 216.342 ton dari luas panen 48.743 hektar. Keberhasilan ini didorong oleh penambahan lahan baru, pembangunan irigasi, dan distribusi pupuk yang merata.

Pemerintah juga memperluas akses pasar dengan kerja sama pengiriman beras ke daerah kepulauan seperti Wakatobi.

Sementara itu, pengembangan komoditas buah-buahan di enam kecamatan seperti Tongauna, Abuki, dan Latoma menjadi langkah diversifikasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun, di balik capaian tersebut, ancaman inflasi akibat gangguan rantai pasok pangan mendapat perhatian serius seperti Komoditas seperti daging ayam dan telur.

“Kita harus memperkuat hulu. Kalau petani jagung sejahtera, maka peternak ayam stabil, dan harga pangan terkendali,” tegas Bupati Yusran.

Ia pun mendorong pembangunan pabrik pakan ternak di Konawe yang bergantung pada bahan baku lokal seperti jagung.

Dari data BPS menunjukkan, meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Konawe berada di angka 74,50 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 2,95%, persentase penduduk miskin justru naik dari 13,02% menjadi 13,25% atau sekitar 33.990 jiwa.

Koefisien Gini sebesar 0,309 mencerminkan tingkat ketimpangan sedang, dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) hanya 68,03%, masih di bawah rata-rata nasional dan provinsi.

Sementara itu, jumlah penduduk Konawe tercatat sebanyak 267.139 jiwa pada 2024, dengan Kecamatan Unaaha sebagai wilayah terpadat. Namun, beberapa kecamatan seperti Latoma justru mengalami pertumbuhan negatif.

“Kita harus bekerja keras. Angka-angka ini hanya akan bermakna jika diwujudkan dalam bentuk lapangan kerja, harga pangan yang stabil, dan kesejahteraan nyata di tengah masyarakat,” imbuhnya.

Ia menyerukan kolaborasi intensif antar SKPD dan partisipasi aktif masyarakat sebagai kunci mewujudkan visi pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

Rapat ini menjadi landasan penyusunan RPJMD 2025–2029 yang akan berfokus pada pemerataan pembangunan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan peningkatan kualitas hidup seluruh masyarakat.

 

Laporan: Redaksi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA